Tampilkan postingan dengan label Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Barat. Tampilkan semua postingan

Everyman's War


As the seasoned infantry and tank units of the German 11th Panzer "Ghost" division move silently into position on the snow covered hills around Nennig Germany ,a battle weary GI and his unit stand ready to defend the small town, a key position in the Allied advance to win the war. Outgunned and outnumbered, S/ Sgt Don Smith struggles to find hope and courage against overwhelming odds in one of the decisive confrontations in the "Battle of the Bulge" during WWII. His squad of GI's of the 94th Infantry Division lay dug in on the ridge-line outside of town. No one in high command believed that German forces would attack in the sub zero temperatures and near blizzard conditions. As the pre-dawn attack comes, with communications down Sgt. Smith is left with no choice but to make his way through enemy fire, unarmed and wounded, into town and warn of the coming attack. Based on actual accounts...

Class Of The Titans


Meskipun keturunan dewa Zeus (Liam Neeson), Perseus (Sam Worthington) harus dibesarkan di antara para manusia. Perseus bahkan tak bisa berbuat banyak ketika keluarganya menjadi korban keganasan Hades (Ralph Fiennes), Dewa Kegelapan, yang berusaha menguasai seluruh alam semesta.

Hades berusaha menguasai alam semesta dengan cara menggulingkan Zeus sang raja para dewa. Bila itu tercapai maka Hades dengan leluasa bisa membuka pintu alam kegelapan dan seluruh alam semesta akan hancur lebur bila makhluk-makhluk gaib ini bisa menembus masuk ke seluruh alam semesta.

Kini harapan berada di tangan Perseus. Bersama sekelompok prajurit tangguh, Perseus harus menempuh perjalanan panjang dan berbahaya melewati alam gaib dan bertarung melawan iblis dan seluruh penghuni kegelapan sebelum ia bisa menemukan Hades.

Perseus hanya bisa bertahan bila ia mampu menerima takdirnya sebagai keturunan dewa dan menempuh takdirnya sebagai manusia setengah dewa. Bila Perseus gagal maka tidak ada harapan buat seluruh penghuni bumi.

Green Zone


Plot : Pemicu meledaknya perang Irak adalah keyakinan bahwa di negara tersebut tersimpan sejumlah senjata pemusnah masal yang disembunyikan di suatu tempat di negeri ini. Pemerintah Amerika pun memerintahkan Chief Warrant Officer Roy Miller (Matt Damon) untuk mencari tahu lokasi senjata berbahaya ini.

Informasi lokasi senjata pemusnah masal ini jelas tak bisa didapat dari pihak Irak yang bersikukuh bahwa mereka tak memiliki senjata seperti yang dituduhkan pemerintah Amerika ini. Terpaksa Roy harus melacak lokasi senjata ini hanya dengan berbekal berbagai informasi yang didapatnya dari pihak intelejen. Meski telah mendapat bantuan peralatan canggih, tetap saja pekerjaan tersebut bukan pekerjaan mudah dan tanpa resiko.

Roy dan timnya harus menyisir padang pasir yang dipenuhi ranjau darat. Di tengah penyelidikan ini Roy mulai curiga bahwa ada sebuah konspirasi besar yang berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi di Zona Hijau ini. Roy tahu bahwa pihak intelejen dari kedua belah pihak sedang berusaha membuat cerita yang menguntungkan pihak mereka masing-masing. Di saat genting seperti ini, kebenaran adalah senjata yang paling ditakuti.


Inception


Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah seorang extractor, dan ia adalah yang terbaik yang pernah ada. Tugas Cobb adalah mengambil ide orang lain dengan cara masuk ke dalam alam mimpi mereka. Karena pekerjaan ini pula Cobb tak bisa kembali ke Amerika Serikat. Cobb selalu merindukan anak-anaknya namun ia tetap tak bisa berbuat apa-apa.

Saat sebuah tawaran datang, Cobb tak punya alasan untuk menolaknya. Seorang pria bernama Saito (Ken Watanabe) menawarkan sebuah kesepakatan yang sangat menggiurkan. Saito bisa membawa Cobb kembali ke Amerika Serikat bila Cobb bisa menuntaskan tugas yang diberikan Saito. Bila biasanya Cobb mencuri ide dari pikiran orang, kini Saito ingin Cobb melakukan yang sebaliknya.

Saito ingin Cobb masuk ke mimpi seorang pria bernama Robert Fischer Jr (Cillian Murphy), bukan untuk mengambil ide namun justru menanamkan ide baru di sana. Saito ingin Robert menghancurkan kerjaan bisnis yang dibangun ayahnya dari dalam agar kerajaan ini tak lagi jadi ancaman buat bisnis Saito.

Dalam menjalankan misinya, Cobb punya satu tim yang terdiri dari Ariadne (Ellen Page), Arthur (Joseph Gordon-Levitt), Yusuf (Dileep Rao), dan Eames (Tom Hardy). Mereka menggunakan teknologi yang memungkinkan mereka memasuki mimpi orang lain dan mengaturnya seperti yang mereka kehendaki.

Di saat yang sama, Cobb sendiri punya masalah pribadi yang cukup rumit. Cobb tak bisa melepaskan diri dari bayangan Mallorie (Marion Cotillard), istrinya yang telah meninggal. Mal selalu muncul di alam mimpi Cobb dan berisiko mengacaukan proyek Cobb.

Cerita di atas mungkin terdengar sederhana namun bukan itu yang terjadi dalam film INCEPTION ini. Alur cerita film ini begitu rumit dan mengharuskan kita berkonsentrasi tinggi untuk bisa benar-benar memahaminya. Meski rumit namun bukan berarti film ini sama sekali tak bisa dipahami. Bukan Christopher Nolan kalau tak memberikan sesuatu yang mengejutkan buat penonton.

Bagian awal dari film ini sebenarnya lebih mirip sebuah tutorial yang memperkenalkan konsep mimpi dan cara mengendalikannya. Siapa lagi yang jadi pemandu kalau bukan Leonardo DiCaprio yang bermain dengan baik seperti pada film sebelumnya (SHUTTER ISLAND). Saat karakter Cobb menjelaskan konsep memasuki dunia mimpi ini pada Ariadne, maka di saat yang sama pula Christopher Nolan membimbing kita untuk memahami alur cerita yang bakal datang kemudian.

Konon, ide cerita film ini sudah ada di benak Nolan sejak delapan tahun yang lalu dan bisa jadi selama itu pula Nolan merancang sebuah alur kisah sempurna seperti yang disodorkan lewat INCEPTION ini. Aksi laga tetap ada namun itu semua dikemas Nolan dalam sebuah jalinan cerita, yang rumit sehingga adegan yang sebenarnya sudah jadi pakem setiap film action itu jadi terlihat berbeda.

Didukung oleh akting para aktor dan aktris yang meyakinkan, lengkap sudah INCEPTION ini menjadi sebuah tontonan yang benar-benar fresh.



Surrogates


Di masa depan, orang tak lagi senang berinteraksi dengan sesama manusia. Sebagai gantinya, mereka menggunakan robot yang mewakili mereka untuk saling berhubungan dengan manusia lain. Orang memilih tinggal di rumah sementara robot mereka yang bekerja menggantikan mereka. Tentu saja tak semua orang senang dengan budaya baru ini.

Suatu ketika, terjadi kasus pembunuhan terhadap seorang mahasiswa yang juga adalah penemu dari robot yang menggantikan fungsi manusia ini. Seorang polisi yang diperankan oleh Bruce Willis mengambil tugas untuk menyelidiki kasus pembunuhan misterius ini, tentu saja dengan menggunakan robot yang mewakili tugasnya sebagai polisi.

Namun saat kasus ini mulai menjadi semakin pelik, polisi ini mulai menemukan satu teori bahwa satu-satunya cara menemukan sang pembunuh adalah dengan menghadapi sendiri kasus ini tanpa bantuan robot. Ia pun kemudian meminta bantuan dari polisi lain yang diperankan oleh Radha Mitchell. Kini kedua polisi ini harus benar-benar turun ke jalan, sesuatu yang telah lama mereka tinggalkan, untuk membongkar kasus kejahatan ini.


Prince Of Persia


Konon, menurut legenda Persia, barang siapa memiliki sebuah jam pasir yang berisi Sands of Time (pasir waktu) akan mampu membalikkan waktu. Jam pasir ini adalah pemberian para dewa yang tak bisa dipergunakan sembarangan. Di tangan orang yang baik, jam pasir ini bisa mendatangkan kebaikan dan sebaliknya di tangan orang yang jahat maka kehancuran yang ditimbulkannya juga tidak terbayangkan.

Satu-satunya orang yang bisa mengeluarkan 'pasir waktu' ini dari dalam jam pasir adalah Dastan (Jake Gyllenhaal) yang memiliki Dagger of Time (belati waktu). Dastan, sang pangeran, bukanlah pria yang jahat namun dengan tipu daya sang wazir (Gisli Orn Gardarsson), Dastan akhirnya melepaskan 'pasir waktu' ini dan mengakibatkan kekacauan di mana-mana.

Seluruh kerajaan seketika musnah dan penghuninya berubah menjadi monster yang menakutkan. Kini keselamatan seluruh dunia berada di tangan Dastan. Ia harus berhasil mengembalikan 'pasir waktu' ini ke dalam jam pasir dan menghentikan kehancuran di muka bumi. Untungnya, Dastan sang pangeran tidak sendiri. Ada Putri Tamina (Gemma Arterton) yang bersedia membantunya dalam misi mulia ini.


[Jual DVD] THE MAZE


Five friends break into a closed corn maze in the middle of the night and decide to play a harmless game of tag. Little do they know that a psychopathic killer has decided to play along. As they wander aimlessly through the maze the murderer follows closely behind, taunting them and watching their every move. The game turns deadly when the kids decide to separate and weaken their chances of survival. When the mutilated body of the maze owner is found they realize that something is terribly wrong.
As they race to find the entrance of the maze, the murderer cleverly forces them to follow the path that he wants. Manipulating everyone to his vicious will, the killer taunts his victims and leads them further into the depths of the maze. After succumbing to hours of torture will anyone make it out of the maze...alive?


[Jual DVD] THE LEGEND OF AWESOMEST MAXIMUS

The rural town of Lynchburg, Georgia holds a dark secret. A century old curse has condemned the citizens to a diet of human flesh. Unable to leave the city limits the town folks must lure unsuspecting travelers to their quaint town where they soon become the menu item of choice. Problems arise when the Federal Government releases a street savvy criminal into their community under the witness relocation program




[Jual DVD] Dark Island

After losing contact with its researchers on a remote island, a military corporation hires a group of scientists and soldiers to find out what went wrong. When they arrive, the team quickly discovers that experiments performed on the island have unleashed a powerful and deadly entity that will stop at nothing to destroy them all.




Eat Pray Love


Buat kebanyakan orang, Elizabeth Gilbert (Julia Roberts) adalah orang beruntung yang telah memiliki segalanya dalam hidup ini. Ia punya suami, punya rumah, dan terlebih dari itu, ia punya karier yang bagus. Sayang, apa yang terlihat dari luar belum tentu sama dengan apa yang dirasakan di dalam.

Gagal membangun rumah tangga idaman dan terpaksa harus bercerai dari suaminya membuat Elizabeth merasa kehilangan arah. Perlahan namun pasti ia mulai merasakan bahwa selama ini ia telah tersesat. Ia tak tahu lagi apa yang ia inginkan dalam hidup ini. Di titik nadir inilah Elizabeth lantas membuat sebuah keputusan besar. Ia ingin berkeliling dunia untuk mencari jatidirinya yang hilang.

Dalam perjalanan ini, Elizabeth menemukan makna sejati kenikmatan dengan makan di Italia. Ia juga menemukan kekuatan doa saat berkunjung ke India dan akhirnya, tanpa disadari, ia menemukan kedamaian dalam cinta sejati yang ia dapatkan saat ia berada di Bali. Dari perjalanan ini pula Elizabeth menyadari bahwa sebenarnya ada banyak cara untuk membebaskan diri dan melihat dunia.

Saat Elizabeth Gilbert membukukan perjalanan panjangnya ke tiga negara, seketika buku itu jadi buku yang laris manis. Bahkan kabarnya buku yang juga berjudul EAT, PRAY, LOVE ini sempat bertengger di jajaran Best Sellers New York Times selama 150 pekan. Bisa dibayangkan bagaimana suksesnya buku ini dan tentu saja, seperti biasa, kesuksesan ini memikat Hollywood untuk membuat adaptasinya.

Menerjemahkan sebuah novel ke dalam bentuk visual memang selalu mengalami masalah. Pasti ada roh yang tak bisa ditransfer ke media lain dan kasus yang sama sepertinya juga dialami oleh buku ini. Ryan Murphy, sang sutradara, sepertinya juga tak berhasil menangkap jiwa dari buku setebal 352 halaman ini. Paling tidak, perjalanan Elizabeth Gilbert dalam film ini terasa tak lebih dari sekedar perjalanan wisata biasa, padahal seharusnya perjalanan ini adalah sebuah pencarian.

Hasilnya, EAT, PRAY, LOVE ini jadi sebuah catatan perjalanan sepanjang hampir dua setengah jam. Soal visual memang tak ada masalah. Tiga negara dengan huruf awal 'I' ini saja sudah menjanjikan pemandangan yang bakal membebaskan mata dari monopoli pemandangan Amerika Serikat yang selalu kita tonton dalam film. Italia, India, dan tentu saja Indonesia yang diwakili Bali tertangkap dengan baik secara visual. Sayangnya, para pelakon dalam film ini yang terasa jadi tenggelam karenanya.

Julia Roberts memang bukan aktris baru. Ia sudah malang melintang di dunia film sejak lama namun sepertinya masalahnya memang sudah muncul sejak masih berbentuk naskah. Akibatnya, sebagus apa pun permainan Julia, yang terasa justru bukanlah sosok Elizabeth Gilbert yang sedang dalam 'pencarian'. Chemistry antara Julia Roberts dan Javier Bardem pun tak terbentuk dengan baik seperti yang seharusnya. Tapi paling tidak, EAT, PRAY, LOVE ini sudah membantu Indonesia dalam mempromosikan pariwisata, terutama di pulau Bali.


Takers

Menjadi perampok bank bukanlah pekerjaan yang hanya memerlukan kekuatan otot saja. Ada perencanaan matang yang harus dilakukan untuk memastikan 'pekerjaan' ini berjalan mulus dan menghindari kemungkinan tertangkap polisi. Kalau sudah urusan merampok bank, kawanan perampok yang dipimpin Gordon Jennings (Idris Elba) adalah pakarnya.

Selama ini kelompok perampok yang beranggotakan John (Paul Walker), Jake Attica (Michael Ealy), Jessie Attica (Chris Brown), dan Ghost (T.I) ini selalu berhasil merampok bank tanpa meninggalkan bukti-bukti apa pun yang bisa mengaitkan satu pun dari mereka pada kasus perampokan yang mereka lakukan. Mereka bekerja dengan perhitungan yang matang dan tak pernah membiarkan keserakahan menghancurkan rencana mulus mereka. Suatu ketika, sebuah 'pekerjaan' menggiurkan menggoda mereka untuk kembali turun ke jalan.

'Pekerjaan' ini bakal menghasilkan uang jauh lebih besar dari yang pernah mereka dapatkan selama mereka menjadi perampok bank. Bila 'pekerjaan' ini sukses, mereka akan pulang mengantongi tak kurang dari US$20 juta. Sayangnya ada satu hal yang punya potensi mengacaukan rencana mereka. Detektif Jack Welles (Matt Dillon) sudah lama mencurigai mereka namun tak punya cukup bukti untuk memenjarakan kawanan perampok ini. Jack mulai menganggap urusan kawanan Gordon ini sebagai urusan pribadi dan akan melakukan apa pun untuk meringkus mereka semua.